Perhitungan Usia Manfaat Waduk Ir.H.Djuanda

March 3, 2014

oleh Ir. Asban Basiran, Wulan Sri pamungkas, Rahmat Sudiana

Rahmat Sudiana

Rahmat Sudiana

Wulan Sri Pamungkas

Ir. Asban Basiran

PENDAHULUAN

Masalah yang dicemaskan pada bendungan-bendungan yang telah dibangun di Negara-negara berkembang seperti di Indonesia khususnya adalah masalah sedimentasi pada waduknya. Tingkat sedimentasi tidak sesuai dengan perhitungan dalam perencanaan, bahkan cenderung mendekati 2 (dua) kali lipatnya, sehingga umur manfaat waduk hanya setengahnya.

Usaha-usaha untuk meneliti penyebabnya baik perhitungan perencanaan maupun faktor-faktor lain sebelum pembangunan bendungan maupun setelah beroperasi pernah diadakan symposium di puslitbang pengairan Bandung tahun 1988 untuk mengevaluasi perhitungan perencanaan sedimentasi. Terdapat kaidah atau rumus yang perlu dikoreksi untuk kondisi di Indonesia, yaitu dengan menambah suatu koefisien pada rumus yang biasa di pakai dalam perencanaan perhitungan erosi yang terbawa aliran permukaan pada suatu dataran. Rumus-rumus yang biasa dipakai hanya berdasarkan penyelidikan pada suatu peta tanah yang ukurannya relative tidak begitu luas, kurang cocok untuk diterapkan pada daerah luas.

Faktor-faktor lain yang membawa dampak negatif dalam pembangunan bendungan adalah masalah lahan penduduk yang tanahnya dipergunakan untuk keperluan pembangunan bendungan maupun waduknya. Ganti rugi baik berupa tanah, bangunan, maupun tanaman, tidak menjamin ganti rugi mata pencahariannya, hanya harta miliknya saja yang mendapat penggantian.

Ketidakpastian mata pencaharian mereka yang terkena proyek tersebut mendorong mereka untuk bergerak ke sekeliling lahan sekitarnya dan menjarah hutan yang mengakibatkan rusak atau tidak berfungsinya hutan sebagai pengendali erosi. Sesudah proyek selesai hutan di sekitarnya gundul yang sudah pasti mengakibatkan erosi terbawa masuk ke dalam waduk.

Pemulihan hutan memerlukan waktu bertahun-tahun, selama penghutanan kembali belum berfungsi sebagai pengendali erosi sepenuhnya, erosi berlangsung terus dan menambah jumlah endapan terus menerus sampai dengan hutan berfungsi kembali sebagai pengendali erosi.

Beberapa hal yang harus ditangani dalam pembangunan suatu bendungan besar ialah:

1. Harus disediakan dana guna konservasi hutan di daerah sekitar waduk khususnya dan di daerah catchment area (daerah pengaliran), sehingga erosi bisa dikendalikan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penghutanan di daerah kritis dan pembuatan teras-teras pada tanah miring yang berfungsi menahan erosi akibat air hujan.

2. Untuk penduduk yang tanahnya terpakai pembangunan bendungan dan waduk, diusahakan memberi mata pencaharian baru sebagai pengganti mata pencaharian sebelumnya yang umumnya bertani atau berkebun. Lapangan usaha baru sebagai pengganti mata pencaharian yang terdahulu yaitu usaha ikan keramba jaring apung. Keberhasilan jaring apung yang telah diterapkan diwaduk Saguling dengan pola setiap warga yang masih berada disekitar waduk diberi kesempatan mengusahakan satu jaring apung yang permodalannya didapatkan dari koperasi, dan ini hanya diperuntukan bagi masyarakat sekitar waduk tidak boleh bagi perorangan  atau usaha dari luar yang sifatnya menyaingi penduduk setempat yang telah kehilangan mata pencahariannya akibat lahan tergenang Waduk Saguling. Ternyata dari usaha keramba jaring apung ini masyarakat memperoleh penghasilan yang lebih besar dari bertani atau berkebun pada lahan yang telah tergenang sebelumnya. Hal serupa diterapkan pada waduk Cirata yang pembangunannya setelah Waduk Saguling selesai. Dengan upaya mengubah mata pencaharian, dari bertani atau berkebun menjadi budidaya ikan masyarakat tidak lagi merusak atau menjarah hutan lindung sekitar waduk, karena mata pencaharian pengganti sudah didapat. Pola ini hendaknya diterapkan pada setiap pembangunan waduk besar, guna menekan laju erosi setelah waduk mulai beroperasi. Pendangkalan waduk karena erosi harus secara dini dicegah, karena mengingat manfaat waduk sangat menunjang bidang ekonomi, sektor pertanian yang menjadi sasaran pembangunan untuk menciptakan swasembada pangan dan peningkatan hasil industri dari penyediaan tenaga listrik yang dibangkitkan demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur.  Berkurangnya usia manfaat waduk berarti juga kerugian besar dari investasi pembangunan yang sebagian besar dananya diperoleh dari pinjaman luar negeri. Langkah -langkah yang diambil untuk menekan laju erosi harus terus menerus di usahakan. Pemantauan sedimen yang telah terjadi di waduk-waduk perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat erosi dan cara-cara mengatasinya. Pendangkalan waduk yang terlalu cepat mengurangi andalan penyediaan air untuk keperluan pengairan maupun tenaga listrik yang bisa dibangkitkan.

KRITERIA USIA MANFAAT WADUK

A. PENGERTIAN USIA/UMUR WADUK

Batas usia umur waduk ditentukan oleh habisnya manfaat waduk untuk bisa diatur penggunaannya bagi kepentingan pengairan atau pembangkit tenaga listrik, dimana air keluaran melalui intake (beranda pengambilan).

Didalam perencanaan pembuatan waduk diadakan pembagian ruang dalam volume waduknya, yaitu bagian volume yang airnya dapat atau tidak dapat diatur melaui suatu pintu pengatur air. Volume diatas bidang horizontal melaui intake merupakan volume Life Storage, sedangkan volume di bawahnya disebut Dead Storage (Kantong Lumpur).

Dead Storage inilah yang menentukan perhitungan umur suatu waduk. Dead Storage merupakan ruangan yang khusus disediakan untuk menampung sedimen yang terbawa aliran sungai yang bermuara di waduk maupun yang terbawa air hujan sekitar waduk.

Jika tingkat sedimentasi sudah mengisi semua bagian dead storage maka pada saat itulah endapan atau sedimentasi mulai menginjak daerah Life Storage, endapan perlahan akan sampai pada tingkatan terganggunya fungsi intake dalam pengaturan air keluar waduk.  Jika fungsi intake sudah terganggu oleh sedimen, pengeluaran air tidak bisa diatur maka waduk tidak bisa berfungsi sebagai  pembangkit tenaga listrik.

Tahap-tahap pengendapan pada saat pengisian waduk  (impounding) maupun saat pengoperasian waduk :

  • Air mengisi bagian yang terendah dari waduk, pengendapan terjadi pada saat kecepatan air mendekati nol. jadi pada saat pertama pengisian waduk praktis endapan berada pada daerah dead storage (kantong Lumpur).
  • Saat daerah dead storage sudah mulai penuh air, endapan yang terbawa aliran mulai mengendap di muara sungai yang praktis kecepatan airnya  mendekati nol.
  • Tahap pengisian sampai air penuh (tinggi muka air / ketinggian ambang pelimpah /spillway), endapan berada pada daerah life storage dimana sungai atau anak sungai bermuara.
  • Pada tahap operasi TMA ( Tinggi Muka Air ) waduk mulai surut, endapan yang telah terjadi di daerah life storage tergerus aliran sungai terbawa ke daerah lebih rendah. Bila operasi waduk misalnya pada musim kering di bawah normal, sehingga TMA terendah sudah berada di bidang antara life storage dan dead storage maka endapan yang terjadi sebelumnya di life storage terkikis aliran sungai masuk ke daerah dead storage.

Begitu keadaan endapan sepanjang tahun berulang sampai berakhirnya endapan menutup intake yang dikatakan tersebut diatas sebagai saat berakhirnya umur manfaat waduk untuk keperluan pengairan / pembangkit tenaga listrik.

Pemantauan endapan dengan pemetaan Survey Bathimetri pada saat TMA tinggi lebih mendapatkan daerah cakupan luas dari pada saat pelaksanaan pada TMA rendah. Periode ulang pemetaan Bathimetri secara teratur (4-5 setahun sekali) mempermudah perhitungan rata-rata jumlah endapan yang terjadi. Jika periode 4-5 tahun sekali, kurang memberikan hasil yang baik atau teliti, periode ulang tersebut bisa di perpendek 2-4 tahun sekali terutama pada waduk yang tingkat pendangkalannya relatif cukup tinggi.

PERHITUNGAN USIA UMUR WADUK

Usia atau Umur waduk = waktu yang diperlukan endapan mengisi semua volume kantong Lumpur (Dead Storage) sampai saat intake tertutup endapan.

Endapan yang terjadi pada suatu waduk dalam waktu tertentu = volume endapan butiran dari tanah tererosi oleh air pada daerah pengaliran (catchment area) yang masuk ke waduk tersebut dikurangi volume endapan butiran yang keluar dari waduk pada jangka waktu tertentu.

Pada waduk cascade seperti halnya Saguling, Cirata, Ir. H. Djuanda perhitungan sediment terjadi di masing – masing waduk yang berada pada aliran sungai citarum yang sama adalah sebagai berikut :

1. Yang mengendap di waduk Saguling pada jangka waktu tersebut = volume endapan butiran tanah yang tererosi air pada seluas catchment area-nya dikurangi volume endapan butiran tanah yang keluar dari waduk Saguling dalam jangka waktu yang sama.

2. Yang mengendap di waduk Cirata dalam waktu tertentu = volume endapan butiran tanah yang keluar dari waduk Saguling di tambah volume endapan butiran tanah yang tererosi air dari catchment area waduk Cirata dikurangi volume endapan butiran tanah yang keluar dari waduk Cirata dalam waktu yang sama.

3. Yang mengendap di waduk Ir. H. Djuanda pada jangka waktu tertentu = volume endapan butiran tanah yang keluar dari waduk Cirata ditambah volume endapan butiran tanah yang tererosi air dari catchment area Ir. H. Djuanda dikurangi volume endapan butiran tanah yang keluar dari waduk Ir. H. Djuanda dalam waktu yang sama.

Sisa volume dead storage tahun 1986 didapatkan dari hasil perhitungan regresi kwadratik dari peta bathimetri yang dilaksanakan akhir tahun 1986.

Dead storage di waduk Ir. H. Djuanda adalah volume waduk di bawah elevasi +75.00 m.dpl

PERHITUNGAN HARAPAN USIA MANFAAT WADUK IR. H. DJUANDA SETELAH DUA WADUK DI ATASNYA CIRATA DAN SAGULING BEROPERASI

Dengan mulainya waduk cirata diisi air berarti pengendapan Lumpur (sedimantasi) dari sungai Citarum ke arah waduk  Ir. H. Djuanda jauh berkurang walaupun sebelumnya telah berkurang dengan mulai berfungsinya waduk Saguling di atas waduk Cirata. Berpangkal pada saat waduk Cirata mulai terisi, dilakukan evaluasi jumlah sedimen yang telah mengendap di waduk Ir.H.Djuanda. Usaha evaluasi ini dengan membuat peta kontur di bawah elevasi +107 m.dpl (ketinggian normal Waduk Ir.H.Djuanda = Tinggi ambang pelimpah open spillway)

Pelaksanaan pembuatan peta kontur akhir tahun 1986 oleh ITB (Institut Teknologi Bandung), dimana bagian yang bisa dilalui kapal pembawa echo sounder diukur kedalamannya menurut sistem potongan melintang waduk pada jarak interval 250 m, bagian yang sudah ada deposit sedimen tentu saja tidak bisa dengan echo sounder yakni bagian muara sungai Citarum dan muara – muara sungai kecil pada waduk Ir. H. Djuanda. Pada daerah ini dilaksanakan dengan pengukuran optis yang disebut pengukuran terestris.

Pembuatan peta kontur dasar air dengan echo sounder disebut bathimetri. Sedangkan pengukuran kedalaman air dengan gema (echo sounder) disebut dalam istilah Indonesia pemeruman.

Dari peta contour ( = peta ketinggian sama ) dari seluruh permukaan tanah dasaran waduk diketahui luas maupun isi waduk pada setiap ketinggian, yaitu dengan menggunakan poolplanimeter  luas biasa hitungan, demikian juga dari dua luas bidang berturutan dan jarak antaranya (=tingginya) yang diketahui isi bisa dihitung dan di buat tabel.

Hasil tabulated peta contour dibawah air mempermudah pembacaan hubungan antara ketinggian luas-volume dari waduk Ir. H. Djuanda sebelum waduk Cirata mulai tergenang.

Untuk pembuatan tabel  cukup pada beda ketinggian 5 meter dan hasilnya seperti tergambar pada halaman berikut.

Dari Contour ITB. yang perlu dikoreksi yaitu luas maupun volume dibawah + 40.00 m yang kelihatannya janggal sehingga kita proses data dari + 40.00 m s.d +107.00 m ( banyaknya data n = 15), sedang dibawah +40.00 m dapat dihitung sampai luas maupun volume mendekati 0.

Dari persamaan persamaan tersebut diatas Luas maupun Volume dapat dicari. berikut disajikan penjabaran Luas dan Volume yang menghasilkan persamaan :

– Luas Waduk Ir.H.Juanda

– Volume Waduk Ir.H.Juanda

Penjabaran Luas

3 persamaan dengan 3 bilangan yang dicari akan didapat :

a = – 13244.2

b = 257.97

c = 5.54

sehingga persamaan menjadi Y = – 13244.2 + 257.97 x + 5.54

Jadi persamaan luas waduk Ir.H.Juanda :

L = 5.54   + 257.97 H – 13244.2

adapun penjabaran volume disajikan dalam halaman berikut

3 persamaan dengan 3 bilangan yang dicari akan didapat :

a          = 742.6302521

b          = – 38.74437295

c          = 0.518283824

sehingga persamaan menjadi : Y = 743 – 38,8x  + 0,52

Jadi persamaan isi waduk Ir. H. Djuanda :

V = 0.52 –  38.7H +  743

Catatan :

Volume / isi waduk  Ir. H. Djuanda initial menurut perhitungan Consultant Coyene Et Bellier (COB) Paris Perancis, 1964

V = 0.557  – 38.56H + 719.325

Jelas kelihatan, bahwa selama beroperasinya waduk  Ir. H. Djuanda telah mengalami perubahan kapasitas isi waduk.

Perlu dimaklumi pengendapan Lumpur  (sedimentasi ) terbesar pada musim hujan, dimana TMA mengarah tinggi sehingga deposit pada muara Citarum waduk  Ir. H. Djuanda relatif besar (pada kecepatan aliran V mendekati 0). Sebaliknya pada musim kemarau deposit tergerus aliran air ke arah hilir yang TMA nya mengarah rendah, hal ini terjadi bertahun – tahun selama waduk Ir. H. Djuanda masih tunggal, belum ada waduk – waduk di hulunya.

Setelah adanya waduk Cirata, keadaan agak berlainan mengingat adanya sebagian besar Lumpur telah mengendap terlebih dulu pada waduk Saguling dan Cirata.

Dari hasil pengamatan Lumpur yang terbawa aliran air sungai Citarum masuk waduk  Ir. H. Djuanda (pada pengambilan contoh pada air di Cipetir) dan keluar waduk  Ir. H. Djuanda (pada pengambilan contoh air di Tailrace) setiap 2 minggu sekali selama tahun 1982, 1984, 1985 menunjukan rata – rata 6% jumlah kandungan Lumpur keluar waduk dibandingkan jumlah air masuk waduk.

Selama 24tahun (1963-1987) sebelum ada waduk Saguling dan Cirata kandungan Lumpur pada waduk Ir. H. Djuanda :

Volume air 1963 (initial)                                     =  2.970.

Volume 1987 (bathymetris akhir 1986)             =  2.556.

Volume Lumpur selama 24tahun                        =      414.

Sediment pertahun 1/24 x 414.        = 17,25

Adanya bottom outlet yang dimungkinkan deposit endapan di sekitar intakenya terkuras keluar waduk sehingga angka 6% dianggap terlalu kecil untuk lebih amannya pada waduk Saguling, Cirata dan Ir. H. Djuanda sama yaitu diambil 10% kandungan Lumpur keluar waduk dibanding air yang masuk waduk.

Lumpur yang terbawa inflow = 100% / 90% x 17,25. / tahun = 19,166.  / tahun. Inflow waduk Ir. H. Djuanda sebelum ada waduk saguling dan Cirata = 5755.  / tahun. Banyaknya Lumpur yang terkandung dalam aliran sungai Citarum =            19,166.   / tahun       x  100% =  0.33%

                5755.   / tahun

inflow waduk Saguling                                           : 2563.  / tahun

inflow waduk Cirata                                                : 2543.  / tahun

inflow waduk Ir.H.Djuanda                                  : 649.   / tahun

maka sediment yang mengendap di waduk :

saguling sendiri : (0.33 % x 2563./tahun )

dari saguling masuk cirata : 10 % (0.33 % x 2563./tahun ).I

cirata sendiri : (0.33 % x 2543./tahun )……………………………….II

Dari Cirata masuk Ir.H.Djuanda : 10 % ( I + II ).

Ir.H.Djuanda sendiri : (0.33 % x 649./tahun )…………………..III

jadi yang mengendap pada waduk Ir.H.Djunda :

Berdasarkan perhitungan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa harapan usia manfaat Waduk Ir.H.Djuanda adalah kurang lebih 277,5 tahun sejak Tahun 1987. Dengan kata lain harapan usia manfaatnya sekitar 250,5 tahun lagi sejak Tahun 2014. Mudah-mudahan harapan usia manfaat waduk tersebut dapat tercapai sebagai warisan bagi anak cucu kita kelak. Studi lebih lanjut dan perhitungan ulang diperlukan untuk menyempurnakan penelitian ini menggunakan data hasil pengukuran dan penelitian terbaru.


Sejarah Bendungan Jatiluhur

April 26, 2011

oleh : Andrijanto, Wulan Sri Pamungkas

Ir.Andrijanto, MT.

Wulan Sri P

 1.  Umum

Bendungan adalah setiap penahan buatan, jenis urugan batu atau jenis lainnya, yang menampung air atau dapat menampung air baik secara alamiah maupun buatan, termasuk pondasi, bukit/tebing tumpuan, serta bangunan pelengkap dan peralatannya. Dalam pengertian ini termasuk juga bendungan limbah galian tetapi tidak termasuk bendung dan tanggul. Dari segi konstruksi bendungan terdiri dari bendungan urugan dan bendungan beton. Bendungan urugan terdiri dari bendungan urugan serba sama (homogenous), bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di dalam tubuh bendungan (claycore rockfill dam, zone dam) dan bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka (concrete face rockfill dam). Sedang bendungan beton terdiri dari bendungan beton berdasar berat sendiri (concrete gravity), bendungan beton dengan penyangga (buttress dam), bendungan beton berbentuk lengkung (concrete arch dam), dan bendungan beton berbentuk lebih dari satu lengkung (multiple arch dam) (sumber KNI-BB). Berdasarkan ukurannya Bendungan Jatiluhur termasuk ke dalam bendungan besar.

Air yang ditampung akibat dibangunnya bendungan biasanya digunakan untuk irigasi, pasok air baku untuk air minum, industri dan perkotaan, perikanan serta pembangkitan listrik. Manfaat lain bendungan adalah untuk pengendalian banjir dan pariwisata. Disamping untuk menampung air, bendungan juga dibangun untuk menampung material lain, seperti buangan / limbah pertambangan dan lahar dingin. Bendungan untuk menahan lahar dingin disebut juga bendungan sabo (sabo dam).

Setelah perang Dunia Kedua, terkait dengan peningkatan populasi yang tajam, kebutuhan pangan dan listrik, baik untuk rumah tangga maupun industri, meningkat pesat. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk melaksanakan pembangunan bendungan besar di utara Provinsi Jawa Barat, untuk memenuhi penyediaan pangan dan listrik tersebut.

Selama masa pelaksanaan, proyek pembangunan ini dinamakan “Jatiluhur Multipurpose Project” dan setelah penyelesaiannya dinamakan menjadi Bendungan dan Pembangkit Listrik Juanda, sebagai kenang-kenangan atas peran Perdana Menteri terakhir Indonesia Ir. H. Djuanda dalam terwujudnya pembangunan Bendungan Jatiluhur.

Pada dasarnya proyek pembangunan Bendungan Jatiluhur dibuat untuk keperluan irigasi dan listrik, namun memiliki tujuan lainnya, yakni pasok air baku, pengendalian banjir, penggelontoran kota, perikanan darat, dan pariwisata.

2.  Lokasi Bendungan Jatiluhur

Bendungan Jatiluhur berjarak kurang lebih 100 km arah Tenggara Jakarta, yang dapat dicapai melalui jalan tol Jakarta Cikampek dan jalan tol Cipularang (ruas Cikampek – Jatiluhur), dan 60 km arah Barat Laut Bandung, yang dapat dicapai melalui jalan tol Cipularang (ruas bandung – Jatiluhur). Dari Kota Purwakarta sekitar 7 km arah barat. Berdasarkan koordinat geografis, posisi Tubuh Bendungan Jatiluhur berada pada 6o31’ Lintang Selatan dan 107o23’ Bujur Timur. Kotak merah pada gambar kiri menunjukkan posisi Bendungan Jatiluhur pada peta.

Bendungan Jatiluhur merupakan bendungan terbesar di Indonesia, membendung aliran Sungai Citarum di Kecamatan Jatiluhur – Kabupaten Purwakarta – Provinsi Jawa Barat, membentuk waduk dengan genangan seluas ± 83 km2 dan keliling waduk 150 km pada elevasi muka air normal +107 m di atas permukaan laut (dpl).  Gambar 3-5 adalah denah area Waduk Jatiluhur sebelum dan sesudah penggenangan. Luas daerah tangkapan Bendungan Jatiluhur adalah 4.500 km2. Sedangkan luas daerah tangkapan yang langsung ke waduk setelah dibangun Bendungan Saguling dan Cirata di hulunya menjadi tinggal 380 km2, yang merupakan 8% dari keseluruhan daerah tangkapan. Daerah tangkapan (upper Citarum) meliputi wilayah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Purwakarta. Pada Awalnya dirancang memiliki kapasitas tampungan 3 milyar m3, namun saat ini tinggal 2,44 milyar m3 (hasil pengukuran batimetri tahun 2000) akibat sedimentasi. Namun demikian setelah dibangun Bendungan Saguling dan Cirata di atasnya, laju sedimentasi semakin menurun. Bendungan Jatiluhur merupakan bendungan multiguna, dengan fungsi sebagai pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang 187,5 MW, pengendalian banjir di Kabupaten Karawang dan Bekasi, irigasi untuk 242.000 ha, pasok air untuk rumah tangga, industri dan penggelontoran kota, pasok air untuk budidaya perikanan air payau sepanjang pantai utara Jawa Barat seluas 20.000 ha, dan pariwisata. Bendungan ini mulai dibangun pada tahun 1957 ditandai dengan  peletakkan batu pertama pembangunan oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno. Tanggal 19 September 1965 merupakan kunjungan terakhir Ir. Soekarno ke Bendungan Jatiluhur, yakni sebelas hari sebelum pecahnya peristiwa G 30 S PKI. Pada kesempatan tersebut sempat dilaksanakan Sidang Kabinet Dwikora.

Gambar 3: Denah Area Bendungan Ir. H. Djuanda Sebelum Penggenangan

Gambar 4: Citra Satelit Waduk Jatiluhur

Gambar 5: Foto Bendungan Jatiluhur (diambil tahun 2000)

Peresmian oleh Presiden RI Kedua Jenderal Soeharto pada tanggal 26 Agustus 1967. Jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan Bendungan Ir. H. Djuanda hingga selesai adalah US$ 230 juta. Biaya ini meliputi biaya dalam bentuk dolar dan rupiah.

Gambar 6 : Peresmian Konstruksi Bendungan Jatiluhur. (Sumber: Menyimak Bendungan di Indonesia (1910 – 2006) KNI-BB, Yayasan Kilas Teknologi Konstruksi Indonesia)

Gambar 7: Kunjungan terakhir Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, ke Bendungan Jatiluhur

Gambar 8 : Pegawai dan masyarakat Menyambut kedatangan Presiden Pertama RI,. Soekarno

Gambar 9: Foto Peresmian Bendungan Jatiluhur

Terlihat dalam gambar 9, Ibu Tien Soeharto sedang melakukan pengguntingan pita sebagai tanda diresmikannya Bendungan Jatiluhur. Foto di bawah ini memperlihatkan Presiden Pertama RI Jenderal Soeharto sedang berada di Gedung Istora dan kemudian berjalan menuju ke arah Hotel Pasanggrahan. Lokasi ini berada di semenanjung bagian udik Bendungan Jatiluhur (dekat bukit tumpuan kanan).

Gambar 10: Presiden Soeharto sedang menikmati hidangan di Gedung Istora

Gambar 11: Presiden Soeharto, berjalan menuju Hotel Istora

Gambar 12: Foto Ir. H. Djuanda

Untuk mengenang jasa Ir. H. Djuanda (nama lengkap Ir. H. R. Djoeanda Kartawidjaja) dalam memperjuangkan pembiayaan pembangunan Bendungan Jatiluhur, bendungan ini dinamakan secara resmi Bendungan Ir. H. Djuanda. Beliau adalah Perdana Menteri RI terakhir dan memimpin kabinet Karya (1957 – 1959). Ir H Djuanda Kartawidjaja, lulusan Technische Hogeschool (Sekolah Tinggi Teknik) – sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB), yang sebelumnya pernah menjabat menteri di antaranya Menteri Perhubungan, Pengairan, Kemakmuran, Keuangan dan Pertahanan. Beliau bersama-sama dengan Ir. Sedijatmo dengan gigih memperjuangkan terwujudnya proyek Jatiluhur di Pemerintah Indonesia dan forum internasional. Pada kunjungan terakhirnya Ir. Soekarno menyampaikan perintah untuk menyelesaikan pembangunan Bendungan Jatiluhur pada akhir April 1966, namun tidak terlaksana karena pemberontakkan G 30 S PKI.

Gambar 13: Kunjungan Wakil Presiden Drs. Moch. Hatta di Bendungan Jatiluhur tanggal 25 September 1956

3.  Sungai Citarum

Sebagai sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat, mengalir sepanjang lebih kurang 270 km dari mata air di Gunung Wayang di Kabupaten Bandung, sampai muaranya di Laut Jawa dengan melalui Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, membagi daerah administrasi Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi dari Kedung Gede ke hilir dan berakhir dari Muara Gembong sebagai muara Sungai Citarum ke Laut Jawa. Sungai Citarum memiliki volume aliran tahunan rata-rata 5,5 milyar m3, luas DAS 6.600 km2. Memiliki tinggi curah hujan tahunan rata-rata 2.353 mm, dengan 80% hujan jatuh pada periode November – Mei.

Sungai Citarum dengan beberapa sungai lainnya di Jawa Barat bagian utara, yaitu: Ciherang, Cilamaya, Cijengkol, Ciasem, Cigadung, Cipunegara, dan Cilalanang membentuk suatu wilayah hidrologis yang terintegrasi, dengan satuan hidrologis seluas 1.100.000 ha. Gambar di bawah ini adalah Mata Air Pangsiraman, yakni salah satu dari tujuh mata air Sungai Citarum yang berada di Gunung Wayang – Ciwidey. Nama keenam mata air Sungai Citarum lainnya adalah Cikahuripan, Cikawedukan, Cisanti, Cikaloberes, Cisadane/Cihaliwung dan Cikadugalan/Cipaedah. Ketujuh mata air ini berada pada area Situ Cisanti yang memiliki ketinggian +2.180 m dpl.

Gambar 14: Foto Mata Air Pangsiraman

Gambar 15 di bawah ini adalah Foto Udara Muara Gembong, yakni salah satu dari tiga muara Sungai Citarum yang berada di Kabupaten Bekasi. Dua muara lainnya adalah Muara Karawang dan Muara Bungin yang berada di Kabupaten Karawang.

Gambar 15: Foto Muara Gembong

Gambar 16: Peta DAS Citarum dan interkoneksinya

Pada tahun 1984 dan 1987 beroperasi 2 buah bendungan besar di hulu Bendungan Ir. H. Djuanda, yakni Bendungan Saguling dan Bendungan Cirata. Dengan dibangunnya kedua bendungan tersebut, kapasitas tampungan keseluruhan menjadi sama dengan aliran tahunan Sungai Citarum.

4. Gagasan Pembangunan Bendungan Jatiluhur

Gagasan pembangunan bendungan di Sungai Citarum dudah dimulai pada abad ke-19 oleh para ahli pengairan pada waktu itu dengan telah dilakukannya survey awal antara lain survey topografi dan hidrologi. Bahkan pengukuran debit Sungai Citarum untuk keperluan bendungan dan irigasi telah di mulai pada tahun 1888.

Gagasan pembangunan tersebut kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein, seorang ahli pengairan Belanda pada tahun 1930. Gagasan ini untuk pertama kali dipresentasikan pada pertemuan tahunan Persatuan Insinyur Kerajaan Belanda (Koninklijk Instituut van Ingenieurs atau KIVI) tanggal 18 Desember 1948 di Jakarta dengan judul “Een Federaal Welvaartsplan voor het Westelijk Gedeelte van Java”. Ketika itu, Prof. Ir. W.J. van Blommestein, Kepala Perencanaan Jawatan Pengairan Belanda, sudah melakukan survey secara lebih rinci untuk membuat rencana pembangunan tiga waduk besar di sepanjang aliran sungai Citarum; Saguling (sebelumnya dinamakan Waduk Tarum oleh Prof. Ir. W.J. van Blommestein), Cirata dan Jatiluhur.

Selanjutnya Prof. W.J. van Blommestein  sampai kepada sebuah gagasan dimana selain potensi tiga waduk di Sungai Citarum, juga ada potensi pengembangan antar Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk sungai-sungai di Pulau Jawa, yang dikenal dalam tulisannya berjudul “A Development Project for the Island of Java and Madura” pada Agustus 1979. Gagasannya waktu itu adalah Jatiluhur hanya dikembangkan untuk kepentingan irigasi dan pembangunan kanal untuk transportasi air dari Anyer sampai Surabaya melewati Solo.

Prof. Ir. Wilem Johan van Blommestein lahir di Kertasura Kota Solo tanggal 15 Mei 1905 dan meninggal pada tanggal 11 Agustus 1985. Kuliah di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1924 dan lulus dengan mendapar gelar insinyur pada tahun 1928. Pada ini juga beliau langsung ditugaskan ke wilayah afdeling Karawang. Setahun kemudian beliau pindah ke Purworejo, bekerja sebagai insinyur dibidang keirigasian. Tahun 1931 sampai 1934 beliau bertugas di Yogyakarta.

Karya lainnya adalah salah satu bendungan terbesar di dunia yang dibangun di Suriname, yang kemudian diberi nama Bendungan Blommestein. Bendungan ini memiliki luas genangan 1.560 km2, dengan tinggi 54 m. Panjang puncak bendungan keseluruhan 12.000 m. Luas daerah tangkapan 12.000 km2. Bendungan mulai dibangun tahun 1960 dan selesai tahun 1964.

Gambar 17: Foto Bendungan Blommestein

Gagasan Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein kemudian dikaji ulang oleh Ir. Van Scravendijk tahun 1955 dengan tulisan berjudul “Integrated Water Resources Development in Citarum River Basin” (240,000 ha sawah). Gagasan ini kemudian dilengkapi oleh Ir. Abdullah Angudi tahun 1960 melalui nota pengelolaan sehingga menjadi Rencana Induk Pengembangan Proyek Serbaguna Jatiluhur.

Gagasan untuk membangun sebuah bendungan di aliran sungai Citarum dirintis kembali pada era tahun 1950-an. Ir. Agus Prawiranata sebagai Kepala Jawatan Irigasi waktu itu mulai memikirkan pengembangan jaringan irigasi untuk mengantisipasi kecukupan beras dalam negeri. Ketika itu, Indonesia sudah menjadi negara pengimpor beras terbesar dunia. Namun untuk membangun bendungan dengan skala besar, ketika itu masih menjadi  bahan tertawaan, karena Pemerintah RI belum punya uang.

Lalu ide ini dibahas bersama Ir. Sedyatmo, yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Direksi Konstruksi Badan Pembangkit Listrik Negara, Direktorat Jenderal Ketenagaan, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Kebetulan waktu itu PLN punya anggaran dan memang sedang berupaya mencari pengganti sumber daya listrik yang masih menggunakan minyak, karena memang mahal. Lalu, Ir. Sediyatmo menugaskan Ir. P.C. Harjosudirdjo (sekarang; Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudirja) ketika itu sebagai Asisten Kepala Direksi Konstruksi PLN, untuk merancang Bendungan Jatiluhur ini.

Sebelum pembangunan Bendungan Jatiluhur, bagian utara Provinsi Jawa Barat telah dibangun beberapa prasarana sumber daya air, seperti Bendung Walahar, Pundong, Salamdarma, Barugbug dan sebagainya. Namun masing-masing prasarana sumber daya air tersebut belum terintegrasi dan sebagaimana fungsi bendung, tidak dapat menampung air dimusim hujan sehingga pada musim hujan selalu banjir dan kekeringan pada musim kemarau. Intensitas tanam (crop intensity) hanya 1, yakni 1 kali tanam setahun. Kemudian daerah pertanian tersebut sebagian besar dikuasai para tuan tanah, dan petani sebagian besar adalah penggarap yang tidak memiliki tanah.

Hal penting yang juga menjadi pertimbangan saat itu, menurut Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudilja, ketika itu sebagai Asisten Urusan Jatiluhur yang menangani urusan perencanaan maupun pelaksanaan pembangunannya, adalah pertimbangan suplai air ke Jakarta. Ketika itu pelabuhan Tanjung Priok tak pernah disinggahi kapal-kapal asing, karena tidak cukup air untuk perbekalan kapal. Sehingga kegiatan ekspor-impor dari Tanjung Priok tersendat. Haryasudirja yang membuat spesifikasi bendungan Jatiluhur, mengaku meniru gaya bendungan terbesar di dunia, yaitu bendungan Aswan di Mesir. Menggunakan konsultan dari Perancis yang sudah berpengalaman dalam membangun bendungan besar.

5.  Masa Pembangunan Bendungan Jatiluhur

Masa pembangunan Proyek Jatiluhur juga unik, sebab sempat mengalami sembilan kali pergantian kabinet dari Kabinet Karya Tahun 1957 sampai Kabinet Ampera Tahun 1967.

Menteri-menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga pada masa pembangunan Bendungan Jatiluhur adalah Ir. Pangeran Mohamad Noor, Ir. Sardjono Dipokusumo, Mayjen D. Suprayogi, dan Dr. Ir. Sutami. Tahun 1965 Menteri PUT dalam kompartemen Pembangunan Mayjen D. Suprayogi membawahi 6 kementerian yaitu: Kementerian Listrik dan Tenaga Ir. Setiadi Reksoprodjo, Menteri Pengairan Dasar Ir. Petrus Kanisius Hardjosudirdjo, Menteri Binamarga Mayjen Hartawan Wirjodiprodjo, Menteri Ciptakarya dan Konstruksi David Cheng, Menteri trans Sumatera Ir. Bratanata dan Menteri Negara diperbantukan pada Menteri Koordinator Pekerjaan Umum dan Tenaga Ir. Sutami.

Hal yang perlu dicatat dari periode pembangunan ini adalah Perancis tidak pernah menyelesaikan pembangunan Bendungan Jatiluhur. Pada tanggal 15 Oktober 1965, yakni 15 hari setelah pecah G 30 S PKI, para tenaga ahli asing kembali ke negaranya. Pada saat itu sebagian konstruksi menara pelimpah utama bagian atas belum selesai dan Bendungan pelana Pasirgombong Barat dan timur sama sekali belum dibuat. Penyelesaian pekerjaan yang tersisa tersebut dilaksanakan secara swakelola oleh tenaga ahli dari Indonesia dengan memanfaatkan peralatan yang ditinggalkan.

Namun demikian pada saat peresmian Bendungan Jatiluhur oleh Presiden Soeharto, pekerjaan masih belum selesai seratus persen. Pelimpah pembantu (auxiliary) yang berada di tumpuan kiri Bendungan Pelana Ubrug belum sesuai dengan rencana awalnya, yakni penggunaan pintu radial pada kedua jendelanya. Hal ini disebabkan biaya untuk penyelesaian tidak tersedia lagi.

Agar Bendungan Jatiluhur dapat beroperasi sesuai rencana, pada keempat jendela pelimpah pembantu Ubrug dibuat beton lunak lengkung yang puncaknya mencapai elevasi +111,6 m, yakni elevasi banjir maksimum. Pelimpah pembantu Ubrug dioperasikan dengan cara meledakkan beton lunak lengkung. Namun demikian selama operasi Bendungan Jatiluhur, pelimpah pembantu tersebut belum pernah dioperasikan.

Berikut adalah tenaga ahli/insinyur periode awal pembangunan Bendungan Jatiluhur:

  1. Ir. Patti (tidak sampai selesai)
  2. Ir. Masduki Umar
  3. Ir. Ahmad Musa
  4. Ir. Donardi Senosarto
  5. Ir. Sutopo
  6. Ir. Sudarjo
  7. Ir. Asban Basiran (saat ini masih membantu Direksi PJT II sebagai Tenaga Senior dibidang Bendungan)
  8. Ir. Samsiar

6. Demografi Daerah Genangan

Genangan yang terjadi akibat pembangunan Bendungan Jatiluhur menenggelamkan 14 Desa dengan penduduk berjumlah 5.002 orang. Penduduk tersebut kemudian sebagian dipindahkan ke daerah sekitar bendungan dan sebagian lainnya pindah ke Kabupaten Karawang. Sebagian besar penduduk waktu itu bekerja sebagai petani.

7. Produksi Listrik

Produksi listrik pertama dimulai pada tahun 1965 dan disalurkan ke Bandung melalui Saluran udara tegangan tinggi 150 kV milik PLN. Penyaluran ke Jakarta baru dilakukan pada tahun 1966. PLTA unit VI baru dipasang oleh PT. PLN Pikitdro Jabar antara tahun 1979 – 1981 dengan kapasitas 32 MW.



Inspeksi Visual

August 29, 2010

oleh: Andrijanto, Rahmat Sudiana

Andrijanto

Rahmat S.

Apakah Inspeksi Visual Bendungan?

Inspeksi visual adalah inspeksi yang dilakukan secara visual pada obyek inspeksi yang berada di permukaan tanah dan air, seperti permukaan bendungan, bangunan pelengkap, tebing tumpuan (abutmen) dan tebing waduk, peralatan hidromekanikal, instrumentasi dan lain sebagainya. PJT II, melalui Sub Divisi Bendungan dan Citarum Hulu – Divisi Bendungan, melakukan inspeksi visual dua kali dalam setahun untuk bendungan-bendungan yang ada di daerah kerjanya, yakni sekitar bulan Mei – Juni pada saat muka air waduk tinggi dan November – Desember pada saat muka air waduk rendah. Inspeksi visual yang dilakukan meliputi inspeksi Bendungan Ir. H. Djuanda di Kabupaten Purwakarta, Bendungan Kamojing (Situ Kamojing) di Kabupaten Karawang dan Bendungan Cipancuh (Waduk Cipancuh) di Kabupaten Indramayu. Lokasi masing-masing bendungan dapat dilihat pada peta yang diunduh dari Google Map, pada Gambar di bawah ini.

peta 3 waduk

Lokasi Bendungan Ir.H.Djuanda, Kamojing dan Cipancuh (Sumber : Google Map)

Apa Saja Peraturan Pendukungnya?

Inspeksi Visual merupakan kegiatan rutin yang dilakukan dalam  rangka kegiatan pemantauan (monitoring) terhadap keselamatan bendungan. Kegiatan ini mengacu kepada Peraturan Pemerintah No.37 Tahun 2010, Permen PU No. 72/PRT/1997 tentang Keamanan Bendungan, Pedoman Inspeksi dan Evaluasi Keamanan Bendungan Maret 2003 serta Dokumen Sistem Mutu (DSM) No.1/DL/PT/30.21 yang diterapkan di lingkungan Perum Jasa Tirta II tentang Pemantauan dan Pelaporan Keselamatan Bendungan. Acuan lainnya adalah Pedoman Operasional Unit Monitoring Bendungan pasal 11.3 tentang Pemeriksaan Lapangan Secara Visual.

Mengapa Dilakukan Inspeksi Visual?

Inspeksi Visual dilakukan secara periodik dan berkesinambungan guna mendapatkan data visual tentang kondisi terkini di lapangan mengenai Bendungan Ir.H.Djuanda, Kamojing dan Cipancuh dilihat dari aspek keselamatan dan segi kelaikannya. Pemeriksaan visual penting dilakukan, karena tidak semua perubahan kondisi dan perilaku bendungan dapat diperkirakan dari hasil pengukuran atau pembacaan instrumen. Pekerjaan ini menghasilkan data dan informasi bagi pihak yang berkepentingan dalam rangka pengambilan keputusan sesuai dengan kapasitas dan kewenangannya masing-masing.

Maksud pekerjaan inspeksi visual adalah untuk mengetahui sedini mungkin tentang kondisi terkini di lapangan mengenai bendungan, bangunan pelengkap dan fasilitasnya dengan tujuan apabila ditemui hal-hal yang abnormal (anomali) dan gejala-gejala lain yang dapat mengancam keselamatan bendungan maka dapat segera mungkin diambil tindakan pencegahan dan pengurangan resiko yang dapat mengancam keamanan dan keselamatan bendungan.

Apa Saja Volume Pekerjaannya?

Pekerjaan inspeksi visual terdiri dari serangkaian kegiatan pemeriksaan terhadap tubuh bendungan, bangunan pelengkap, abutmen, rim waduk dan lingkungan sekitar bendungan. Hal-hal yang diperiksa selama inspeksi visual terhadap bendungan adalah retakan, rembesan, bocoran, basahan, mata air, lubang benam, kejadian erosi buluh, erosi permukaan, gerusan, abrasi, tumbuhnya tanaman yang berlebihan, kelurusan puncak, tonjolan atau amblesan lereng atau berem, liang binatang, kemerosotan mutu riprap maupun bahan pelindung lereng lainnya dan lain sebagainya. Sedangkan untuk bangunan beton diperiksa terhadap retakan, remukan, pelarutan, bocoran, indikasi kemerosotan mutu atau reaksi kimia, dan atau kerusakan akibat erosi dan kavitasi, kekedapan sambungan konstruksi, dan lain sebagainya.

Dalam rangka mendapatkan informasi yang berkesinambungan, pengambilan foto dilakukan pada titik dan arah yang sama. Dengan demikian perkembangan ataupun perubahan yang terjadi di suatu tempat dapat dipantau secara berurutan tiap enam bulan. Namun demikian pengambilan foto juga dilakukan pada lokasi-lokasi lainnya yang dianggap penting atau adanya kejadian khusus.

Bagaimana Metodenya?

Berdasarkan metode pelaksanaannya, inspeksi dibagi menjadi 2 jenis yaitu inspeksi visual dan inspeksi bawah air. Inspeksi Visual adalah inspeksi yang dilakukan secara visual pada obyek inspeksi yang berada di permukaan tanah dan air, seperti permukaan bendungan, bangunan pelengkap, tebing tumpuan dan tebing waduk, peralatan hidromekanikal dan lain sebagainya. Pekerjaan inspeksi ini merupakan pekerjaan yang dilakukan dengan metode inspeksi visual berdasarkan Pedoman Inspeksi dan Evaluasi Keamanan Bendungan edisi Maret 2003 yang diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum.

Langkah-langkah yang dilakukan terhadap suatu temuan di lapangan pada saat inspeksi visual adalah S I M P L E yaitu :

  1. Sketch : Menggambar / Sket yang menerangkan suatu temuan di lapangan.
  2. Investigate : Menyelidiki lebih lanjut terhadap suatu temuan di lapangan.
  3. Measure : Mengukur dimensi terhadap suatu temuan di lapangan seperti retakan, longsoran, debit bocoran dan sebagainya.
  4. Photograph : Mengambil gambar/foto suatu temuan di lapangan.
  5. Locate : Menandai lokasi/tempat suatu temuan di lapangan dikaitkan dengan obyek-obyek yang mudah dikenali seperti patok geser, piezometer, Observation Well dan sebagainya.
  6. Engage : Mengikusertakan ahli atau engineer yang berpengalaman dalam inspeksi visual untuk dijadikan nara sumber dalam konsultasi setiap permasalahan yang ada. Dalam hal ini adalah tenaga senior yang ada di PJT II.

Berikut ini contoh arah pemotretan baku (namun tidak terbatas pada arah ini saja) yang dilakukan di Bendungan Utama Ir.H.Djuanda.

 

Arah pemotretan baku di Bendungan Utama Ir.H.Djuanda pada saat inspeksi visual (Sumber Gambar : Google Earth)

 

Apa Saja Alat dan Bahan Yang Biasa Digunakan?

Alat-alat serta bahan yang biasa digunakan dalam inspeksi visual di Bendungan Ir.H.Djuanda, Kamojing dan Cipancuh meliputi :

  1. Kendaraan roda empat
  2. Kamera
  3. Handy Cam
  4. Meteran 50 m dan 5 m
  5. Alat Tulis
  6. Kaos Tangan
  7. Crane dan kurungan baja sebagai sarana untuk turun ke dasar pelimpah pada saat inspeksi Hollow Jet Valve.
  8. Sabuk Keselamatan (Safe Belt) untuk inspeksi Hollowjet Valve
  9. Pelampung (Life Vest) untuk inspeksi Rim Waduk
  10. Perahu (Speed Boat) untuk inspeksi Rim Waduk
  11. Handheld GPS (Alat Penentu Posisi Global)

Bendungan Prof. Dr. Ir. WJ van Blommestein

January 23, 2010

Oleh : Andrijanto, Rahmat Sudiana

Andrijanto

Rahmat S.

Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein

Siapakah Prof. Dr. Ir. Wilem Johan van Blommestein? Tentu hampir semua praktisi sumber daya air di Indonesia mengenal beliau. Beliau adalah penggagas pertama pengembangan sumber daya air di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Salah satu karya terbesar beliau dibidang pengembangan sumber daya air adalah “Een Federal Welvaartsplan voor het westelijk gedeelte van Java”. Yakni gagasan mengembangkan sumber daya air secara terpadu mulai dari Ciujung di Banten sampai ke Kali Rambut di Pekalongan, Jawa Tengah. Beliau lahir di Kota Solo tanggal 15 Mei 1905 dan meninggal pada tanggal 11 Agustus 1985. (tentang Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein secara lengkap dapat dilihat pada tulisan sebelumnya).

Namun Apakah diantara kita pernah mendengar nama bendungan di atas? Mungkin tidak pernah terbayangkan oleh kita bahwa nama beliau ternyata digunakan sebagai nama salah satu bendungan terbesar di dunia.

Bendungan  Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein, dikenal juga sebagai Bendungan Brokopondo – nama tempat bendungan tersebut, berada di Negara Suriname – Amerika Tengah. Lihat Peta berikut:

Peta Suriname

 

Peta Suriname

 

Waduk Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein

 

 

Negara Suriname

Negara Suriname terletak di Benua Amerika, tepatnya di Amerika Tengah berbatasan dengan Negara Guyana di sebelah barat, Brasil di sebelah selatan, Guiana Perancis di sebelah timur dan Samudra Atlantik di sebelah utara. Memiliki ibukota bernama Paramaribo, Republik Suriname seperti halnya Indonesia, sama-sama bekas jajahan Negeri Belanda. Merdeka pada tahun 1975, Negara ini berpenduduk tidak banyak dan uniknya memiliki populasi suku jawa dengan prosentase sebesar kurang lebih 16%, yang dibawa Belanda pada waktu antara tahun 1890 hingga 1939. Nama sebelumnya adalah Guyana Belanda. Arti dari kata Guyana adalah dataran luas yang dialiri banyak sungai.

Bendungan Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein

Bendungan ini merupakan bendungan terbesar di Suriname, dengan luas permukaan genangan maksimum 1.560 km2, bandungkan dengan luas genangan Bendungan jatiluhur yang hanya 83 km2, menjadikannya salah satu waduk terbesar di dunia. Bendungan ini dibangun melintang pada Sungai Suriname, yang pembangunannya dimulai tahun 1961 dan selesai pada tahun 1964, masih dalam penjajahan Belanda. Memiliki ketinggian maksimum 56 m dan dibangun didekat kota kecil yang bernama Brokopondo, yang digunakan sebagai nama lain bendungan. Panjang keseluruhan tubuh bendungan, termasuk dengan bendungan penutup, sepanjang 12 km, dengan luas daerah tangkapan 12.200 km2.

Bendungan ini mulai beroperasi pada tahun 1965dan karena luasnya, TMA optimal baru tercapai pada tahun 1971. Tujuan dibuatnya bendungan ini adalah untuk membangkitkan listrik yang digunakan untuk pabrik yang memproses bauksit menjadi alumina, yang kemudian digunakan juga untuk mendpaatkan aluminium murni. 75 persen dari listrik yang dihasilkan untuk pabrik tersebut, sisanya digunakan untuk listrik kota Paramaribo.

Manfaat lain dari pembangunan bendungan ini adalah untuk irigasi selama musim kering, meningkatkan pariwisata, dan meningkatkan prosuksi perikanan.

Bendungan Utama

 

Bendungan Penutup

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Waduk Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein

Penutup

Memperhatikan penjelasan di atas, ternyata Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein memiliki reputasi internasional yang terbukti dengan diabadikan namanya pada salah satu waduk terbesar di dunia. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah mengapa kita tidak mengabadikan nama beliau pada bangunan-bangunan yang telah dibangun di Indonesia, minimal di wilayah Sungai Citarum? Padahal beliau telah meletakkan tonggak penting bagi pengembangan sumber daya air di wilayah sungai Citarum.

Terkait dengan hal tersebut, dan adanya rencana Perum Jasa Tirta II membangun kawasan konservasi, kami mengusulkan untuk mengabadikan nama beliau pada kawasan tersebut sebagai bukti penghargaan kita terhadap jasa-jasa yang telah beliau berikan.


Desain Bendungan Jatiluhur

January 11, 2010

Oleh : Andrijanto, Rahmat Sudiana

Proses perencanaan pembangunan bendungan di Sungai Citarum dimulai dari penetapan lokasi. Berdasarkan gagasan awal Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein berjudul “Integrated Water Resources Development in the Western Part of Java Island”, direncanakan dibangun tiga buah bendungan di Jatiluhur. Penyelidikan-penyelidikan pertama dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang waktu itu masih dibawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga, dengan mempekerjakan tenaga-tenaga ahli dari Perancis.

Sesuai dengan konsep pembangunan bendungan, yakni dimulai dari udik ke hilir, rencana awal pembangunan dimulai dengan melakukan pengukuran di daerah Padalarang, yaitu lokasi Bendungan Saguling saat ini. Pengukuran tidak dapat diteruskan karena pada waktu pelaksanaan banyak mengalami gangguan dari pasukan DI/TII, memakan korban beberapa petugas ukur yang meninggal dunia. Pengukuran kemudian dipindahkan ke lokasi berikutnya, yakni lokasi sekitar Bendungan Cirata saat ini. Sama seperti dengan di daerah Padalarang, di lokasi ini pun mendapat gangguan dari DI/TII, sehingga akhirnya pengukuran dilakukan di sekitar lokasi Jatiluhur. Mempertimbangkan masalah keamanan dan kebutuhan irigasi yang mendesak, maka diputuskan pembangunan Bendungan Jatiluhur.

Setelah ditetapkan rencana lokasi tubuh bendungan, dimulai pekerjaan perancangan yang dalam perjalanannya mengalami beberapa perubahan. Proses perancangan dan perubahan yang terjadi baik selama perancangan maupun pada saat pembangunan adalah sebagai berikut:

Desain Awal (Preliminary Design)

Bendungan Jatiluhur dirancang pertama kali oleh Neyrpic Laboratory (sejak tahun 1955 Neyrpic Laboratory berubah menjadi Sogreah), sekitar tahun 1953. Sogreah (dulu Neyrpic Laboratory) adalah perusahaan Perancis yang bergerak dibidang konsultasi perencanaan yang juga memiliki pabrik pembuatan unit pembangkit listrik (khusus pembuatan turbin dan waterways).

Berbeda dengan desain yang sekarang, denah bendungan berbentuk busur dengan jari-jari 360 m ke arah udik dengan pelimpah samping yang terletak di sebelah kiri bendungan. Panjang bendungan lebih pendek karena memanfaatkan semenanjung yang berada di udik bendungan saat ini. Terowongan pengelak berada di sebelah kiri bendungan, berjumlah dua buah dengan diameter 10,5 m. Direncanakan salah satu terowongan pengelak akan digunakan sebagai intake pembangkit listrik. Memiliki 4 unit pembangkit listrik yang terletak di hilir bendungan dengan pengambilan di kiri bendungan, (lokasi di tubuh bendungan sekarang pada bagian kiri) memanfaatkan sebagian diversion tunnel sebelah kanan.

Gambar 1: Preliminary Design Denah Bendungan Jatiluhur oleh Neyrpic.

Gambar 2: Ilustrasi Rencana Lokasi Tubuh Bendungan Berdasarkan Preliminary Design

Data teknis Bendungan Jatiluhur berdasarkan preliminary design ini adalah sebagai berikut:

Tipe Bendungan                            : Urugan Batu dengan inti tanah liat.

Lebar puncak                                : 6 m.

Elevasi puncak bendungan          : +111,00 m.

Kemiringan lereng                         :  U/S 1 : 1,4, (D/S) juga 1 : 1,4.

Pelimpah                                       :  Pelimpah samping saluran terbuka, menggunakan 4 buah pintu pengeluaran lebar masing-masing 8 m, dengan elevasi udik pelimpah +88,00 m dan hilir +21,00 m. Lebar saluran pelimpah 20 m.

PLTA                                             :  4 unit, berada di hilir bendungan. Lokasi sekitar tubuh bendungan yang sekarang. Intake memanfaatkan diversion tunnel kanan.

Elevasi puncak cofferdam udik    : +41 m.

Saluran Pengelak                         :  berjumlah dua buah, dengan diameter masing-masing 10,50 m.

Rencana ini tidak diteruskan karena berdasarkan hasil penyelidikan geologi menunjukkan bukit tumpuan kanan terdapat sinklin dengan pelapisan yang miring kearah hilir. Sedangkan kondisi geologi lokasi spillway kurang baik.

Desain Kedua.

Desain bendungan berikutnya dilakukan oleh A. Coine & J. Beller Consulting Engineers Paris. Desain yang dibuat masih berbentuk busur, namun arahnya berlawanan dengan desain sebelumnya, yaitu berbentuk busur ke hilir. Mempertimbangkan kondisi geologi yang ada, maka bukit tumpuan bendungan digeser ke hilir, kurang lebih sekitar 100 m. Lokasi bukit tumpuan dalam desain kedua ini persis sama dengan lokasi bukit tumpuan bendungan saat ini.

Desain pelimpah diubah dari sebelumnya menggunakan pelimpah samping, pada desain kedua ini menggunakan pelimpah dengan struktur morning glory (lihat penjelasan sebelumnya tentang pelimpah morning glory). Sedangkan PLTA disatukan dalam bangunan menara morning glory. Letak PLTA di udik bendungan tidak lazim, biasanya berada di bagian hilir bendungan. Pertimbangan PLTA disatukan dengan bangunan menara pelimpah adalah berdasarkan efisiensi, artinya tidak perlu dibuatkan bangunan tersendiri untuk bangunan PLTA (beda tinggi hilir tidak signifikan) dan intake ke PLTA tidak terlalu panjang sehingga dapat mengurangi loses.

Gambar 3: Denah Bendungan Jatiluhur Berdasarkan Desain Kedua.

Data teknis Bendungan Jatiluhur berdasarkan preliminary design ini adalah sebagai berikut:

Tipe Bendungan                            : Urugan Batu dengan inti tanah liat miring.

Lebar puncak                                : 10 m.

Elevasi puncak bendungan          : +114,50 m.

Kemiringan lereng                         :  U/S 1 : 1,4, (D/S) juga 1 : 1,4.

Menara pelimpah utama               :  Tipe Morning Glory, Ogee, 14 jendela, tanpa pintu, elevasi mercu +107 m, panjang mercu   151,5 m, dengan 14 buah jendela. Kapasitas 3.000 m3/s pada elevasi maksimum. Diameter menara  terluar  90 m. Tinggi menara  110 m.

Elevasi puncak cofferdam udik    : +65 m.

Saluran Pengelak                         :  satu buah, dengan diameter 10,50 m, berada di kanan menara, berlawanan dengan desain sebelumnya.

Desain Akhir.

Desain akhir bendungan sebagian besar sama dengan desain kedua. Yang membedakannya adalah tapak dan kemiringan inti tanah liat bendungan. Pada desain akhir ini bentuk as bendungan digeser ke udik, sehingga mengakibatkan jarak tubuh bendungan dengan bangunan menara menjadi semakin dekat. Perubahan lainnya adalah inti tanah liat yang memiliki kemiringan lebih tegak dibandingkan sebelumnya.

Perubahan ini dilakukan pada masa konstruksi. Pada waktu konstruksi menara dan tailrace/access gallery selesai pada tahun 1962, ditemukan pergeseran yang terjadi pada joint 1 dan 2 tailrace dan access gallery ke arah hilir. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut pada waktu itu dilakukan pengeboran dan pada pondasinya ditemukan lapisan seam clay yang licin di antara sandy claystone dan claystone miring yang ke hilir.

Gambar 4: Kondisi Geologi di Bawah tailrace dan Access Gallery (Penampang Berdasarkan Desain Kedua).

Berdasarkan hasil analisis terdapat kekhawatiran bahwa pergeseran joint 1 dan 2 akibat dari pergeseran lapisan pondasi. Diputuskan pada waktu itu untuk melakukan pengangkuran lapisan pondasi tersebut.

Gambar 5: Skema Pengangkuran dan Penampang Bendungan Setelah Dilakukan Perubahan Desain.

Pengangkuran dilakukan dengan menggunakan besi beton berulir diameter 32 mm.

Gambar 6: Desain Rinci Pengangkuran.

Setelah dilakukan pemasangan angkur, masih terdapat kekhawatiran bila tubuh bendungan sesuai dengan desain, tubuh bendungan akan mengalami pergeseran ke arah hilir. Mempertimbangkan hal tersebut di atas, desain disesuaikan dengan kondisi yang ada, sehingga desain tubuh bendungan menjadi seperti gambar di bawah ini:

Gambar 7: Desain Akhir Bendungan Jatiluhur

Gambar 8: Penampang Melintang Bendungan Utama Melalui Struktur Menara Pelimpah

Gambar 9: Penampang Melintang Bendungan Utama

Catatan    :

1  Diversion Structure

2  Downstream Cofferdam

3  Upstream Cofferdam

4  Main Dam

Data Teknis Bendungan Jatiluhur berdasarkan desain akhir dapat dilihat pada tulisan sebelumnya.

Remedial Work.

Pada tahun 1996 dilakukan Remedial Work dengan tujuan untuk memperbaiki kestabilan tubuh bendungan. Salah satu kegiatan Remedial Work tersebut adalah melandaikan lereng bendungan utama bagian udik dan hilir.


Hollow Jet Valve

December 14, 2009

Oleh : Andrijanto, Rahmat Sudiana

Bendungan mempunyai pintu pengeluaran pada bagian bawahnya, yang berfungsi sebagai salah satu prasarana yang mengatur pengeluaran air dari waduk ke bagian hilir. Ada beberapa jenis pintu yang biasa digunakan, pada Bendungan Jatiluhur pintu pengeluaran tersebut disebut Hollow-jet Valve.

Ada beberapa macam valve (katup) yang dipasang di bendungan (beberapa bendungan menggunakan valve sebagai pintu pengeluaran), yang macamnya tergantung dengan kebutuhannya. Tujuan utama dari pemasangan valve pada pintu pengeluaran tersebut adalah untuk mengatur pengeluaran air dari waduk ke hilir dan yang paling penting adalah untuk meredam energi air yang keluar. Bila tidak diredam, energi air tersebut dapat merusak batuan dan tanah disekitarnya, atau struktur bangunan di dekatnya. Ada empat tipe valve yang biasa dipasang di bendungan, yaitu: Hollow-jet valve, Fixed Cone valve, Ring-jet valve dan jet flow gate.

  • Fixed cone valves, dikenal juga dengan nama Howell-Bunger valves, berasal dari nama pembuatnya C.H.Howell dan H.P. Bunger pada tahun 1935 dan pertama kali dipasang pada Bendungan El Vado, New Mexico, USA. Penggerak dapat dioperasikan secara manual, tenaga listrik maupun hidrolik. Berbentuk pipa bundar dengan selubung yang dapat diatur maju mundur. Besar aliran tergantung jarak antara cone dan selubung. Mampu bekerja hingga beda tinggi 300 m.

Gambar 1: Foto Howell-Bunger valves

  • Hollow jet valves, disebut juga needle valve. Valve jenis ini paling banyak dipakai. Konstruksinya mirip dengan howell-Bunger valve, dengan perbedaan terletak pada bagian dalam yang berbentuk seperti jarum dan memiliki sirip radial yang berguna mengarahkan aliran. Bagian yang digerakkan adalah valve sleeve.

Gambar 2: Foto Hollow-jet valve kanan Bendungan Ir. H. Djuanda

  • Ring jet valves mirip dengan howell-Bunger valve, tetapi memiliki pring penahan yang dapat mengalirkan aliran membentuk penampang yang sempit. (berbeda dengan hollow-jet valve yang mengeluarkan air melebar agak ke samping). Ring jet valve cocok untuk beda tinggi hingga 50 m.


Gambar 3: Foto Ring-jet valve

  • Jet flow gate, mirip dengan gate valve tetapi dengan hambatan berbentuk kerucut pada bagian ujung bertujuan untuk membuat aliran berbentuk jet. Dikembangkan oleh United States Bureau of Reclamation pada tahun 1940. Dapat digunakan untuk beda tinggi hingga 150 m.

Bendungan Jatiluhur memiliki sepasang Hollow-jet Valve. Gambar di bawah menunjukkan lokasi dan foto Hollow-jet valve di Bendungan Jatiluhur.

Gambar 4: Lokasi Hollow-jet Valve di Menara Pelimpah Utama Morning Glory Bendungan Jatiluhur

Gambar 5: Foto Sepasang Hollow-jet Valve Bendungan Jatiluhur dilihat dari atas menara pelimpah utama.

Berdasarkan spesifikasi teknis yang diberikan oleh Neyrpic – Greboble (pembuat Hollow-jet valve Bendungan Jatiluhur), masing-masing Hollow-jet valve memiliki diameter 3.850 mm, dengan pipa dari intake hingga ke pengeluaran memiliki panjang 17 m. Hollow-jet valve dapat dioperasikan dengan cara manual maupun tenaga listrik. Pengoperasian manual dilakukan langsung di lokasi hollow-jet valve yang berada di plafon ruang pembangkitan.

Komponen hollow-jet valve Bendungan Jatiluhur terdiri dari:

Body             :  dibuat dari welded steel plate dan terdiri dari flanged cylinder di bagian depan (hulu) yang terhubung dengan valve cone dibagian belakang. Silinder dibuat dari bahan stainless steel dan mempunyai 4 buah sirip radial.

Valve sleeve   :           terdiri dari steel plate silinder yang terhubung dengan dua buah batang yang berfungsi sebagai batang penggerak. Pembukaan valve maksimum 1.310 mm yang bergerak kearah depan. Valve sleeve merupakan bagian bergerak yang digerakkan oleh batang hidrolik. Air keluar melewati celah antara cone dan valve sleeve.

Cone            :  berbentuk kerucut ke arah dalam yang terletak di bagian ujung body. Cone duduk pada as dan sirip radial, dengan dudukan yang tetap (tidak bergerak).

Seal              :  profiled rubber.

Secara teknis kebutuhan air di hilir Bendungan Jatiluhur dapat dipenuhi melalui air yang dikeluarkan melalui turbin. Ada 6 buah turbin pembangkit listrik dengan kapasitas alir maksimum masing-masing sebesar 45 m3/s pada elevasi muka air waduk +107 m.

Berarti debit sebesar 270 m3/s dapat dilewatkan ke hilir bila ke enam turbin pembangkit listrik jalan. Kebutuhan air di hilir sepanjang tahun tidak pernah melebihi 270 m3/s. Namun demikian pada waktu-waktu tertentu hollow-jet valve harus dibuka karena kebutuhan air di hilir sebagian tidak dapat dipenuhi melalui turbin, karena misalnya terjadi kerusakan unit pembangkit atau ada pekerjaan overhaul unit pembangkit, atau pada kondisi elevasi muka air di bawah intake turbin, sehingga satu-satunya jalan keluar air ke hilir hanya melalui Hollow-jet Valve.

Sebagaimana bagian-bagian lain dari bendungan, hollow-jet valve perlu dipelihara. Jadwal inspeksi dan pemeliharaan mengacu pada manual yang disediakan Neyrpic – Grenoble. Khusus untuk bangunan sipil (bagian yang tidak bergerak), sebagai dudukan hollow-jet valve, juga dilakukan inspeksi rutin. Inspeksi ini dilakukan secara visual dengan mengamati struktur di sekitar hollow-jet valve.

Gambar berikut adalah foto inspeksi pada tanggal 2 Desember 2009.

Gambar 6: Kavitasi

Foto di samping adalah kondisi bidang pertemuan antara lantai beton hollow-jet valve kanan dengan dinding (dilapis pelat baja) yang mengalami kavitasi. Terlihat juga pelat baja mengalami korosi yang cukup parah. Jalan satu-satunya untuk mencapai lokasi ini adalah menurunkan petugas inspeksi menggunakan derek di atas menara, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan tali tambang turun perlahan ke lantai bawah. Nampak dalam foto Bapak Supangat, tenaga senior, yang ikut dalam inspeksi. Salut buat Bapak Supangat.

Gambar 7:  Kurungan Baja

Foto di samping adalah kurungan baja yang digunakan untuk menaik turunkan petugas ke lokasi hollow-jet valve, menggunakan salah satu derek yang ada di atas menara pelimpah utama Morning Glory.


SEKILAS TENTANG PEMANTAUAN BENDUNGAN

November 7, 2009

Oleh : Andrijanto, Rahmat Sudiana

Bendungan direncanakan dan dibangun untuk mendapatkan tampungan air, yang secara umum dimanfaatkan untuk beberapa kegunaan antara lain untuk: irigasi, air baku air minum & industri, pembangkit tenaga listrik, pengendalian banjir, pariwisata dan manfaat lain. Disamping manfaat tersebut terkandung suatu bahaya besar jika terjadi suatu kegagalan bangunan bendungan, sehingga kehandalan dan keselamatan bendungan adalah hal yang sangat penting. Untuk menghindari potensi korban jiwa, kerusakan bangunan, dan kerugian lainnya akibat bobolnya bendungan, diperlukan data yang cukup. Data tersebut antara lain diperoleh melalui aktivitas yang disebut pemantauan bendungan.

Pemantauan secara berkala, metoda observasi berulang serta pencatatan mengenai perilaku bendungan dengan bantuan instrumentasi atau peralatan lain, adalah suatu hal yang perlu dilakukan, agar bendungan dapat beroperasi secara efisien dan aman serta berkelanjutan. Data hasil pemantauan dapat menggambarkan perilaku suatu bendungan, sehingga gejala-gejala yang akan terjadi dapat diketahui secara dini.

Apa saja yang dipantau dan seberapa sering pemantauan dilakukan? Secara umum hal-hal yang perlu dipantau dibagi dalam: (1) air dan ikutannya (air waduk, rembesan, air tanah, tekanan air pori), (2) gerakan dan pergeseran bendungan, (3) getaran (gempa, gelombang), dan (4) klimatologi seperti kecepatan angin, suhu, penguapan, dan hujan. Siklus pemantauan dapat berbeda untuk masing-masing keperluan. Sebagai contoh: pengamatan klimatologi dilakukan harian, sedangkan pemantauan pengukuran pergerakan permukaan di suatu titik pantau dapat bersifat bulanan.

Bagaimana pemantauan bendungan di PJT II?

Pemantauan bendungan dilaksanakan oleh Seksi Monitoring Bendungan di bawah Sub Divisi Bendungan – Divisi IV. Pemantauan dibagi ke dalam 2 urusan, yakni Urusan Topografi yang bertanggung jawab memantau pergerakan permukaan bendungan dan Urusan Instrumentasi yang memantau pergerakan internal bendungan, tekanan air pori, rembesan, klimatologi dan percepatan akibat gempa. Hasil pemantauan kedua urusan tersebut kemudian diolah oleh Urusan Pengolahan Data.

Berikut ini foto pemantauan bendungan:

pemantauan bendungan

Dari kiri ke kanan foto sumur pengamatan, pengukuran rembesan, dan pengukuran topografi.

Pemantauan dilaksanakan tidak hanya di bendungan utama, tetapi juga secara periodik dilakukan pada bendungan pelana Ubrug, Ciganea dan Pasir Gombong. Disamping menggunakan instrumen, pemantauan dilakukan melalui inspeksi visual yang dilaksanakan 6 bulan sekali yakni pada bulan Mei (puncak musim kering) dan bulan November (puncak musim basah). Khusus untuk inspeksi visual, pelaksanaan tidak hanya dilakukan pada Bendungan Ir. H. Djuanda, tetapi juga pada Bendungan Kamojing dan Bendungan Cipancuh.

Pemantauan bendungan memerlukan orang-orang yang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, mengingat pekerjaan pemantauan memerlukan ketelitian, ketekunan, ketrampilan, ketabahan (yang diukur itu-itu aja!!!) dan yang tidak kalah penting adalah keberanian. Kenapa keberanian diperlukan? Karena beberapa alat ukur berada pada lokasi yang sulit dan berbahaya. Disamping itu kerjasama tim merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan pemantauan.

Hasil pemantauan kemudian dianalisis dan dievaluasi, dan dibuatkan laporan berupa laporan triwulan, tahunan, inspeksi visual dan laporan insidentil bila terjadi hal-hal yang perlu diwaspadai seperti gempa. Laporan tersebut disampaikan kepada Direksi PJT II untuk kemudian diteruskan kepada Kepala Balai Bendungan Departemen  Pekerjaan Umum.

Seberapa penting pemantauan Bendungan Ir. H. Djuanda? Bendungan Ir. H. Djuanda memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat karena memberikan pasok air bagi air baku air minum, industri dan penggelontoran kota, pengendalian banjir, dan pasok energi listrik ke sistem Jawa Bali. Perlu diketahui bahwa sebagian besar pendapatan PJT II di bangkitkan dari air yang ditampung di Bendungan Ir. H. Djuanda. Namun dibalik manfaat tersebut Bendungan Ir. H. Djuanda termasuk bendungan berklasifikasi bencana tingkat tinggi. Dengan demikian keberlangsungan dan keselamatan bendungan tersebut menjadi suatu keniscayaan.

Berikut adalah foto Skuad Dam Monitoring dan Tenaga Senior.

skuad monben

Skuad Monben

tenaga senior

Tenaga Senior


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.